728x90 AdSpace

Latest News
Thursday, February 26, 2026

Kepercayaan Publik Dipertaruhkan, PMKRI Desak Forensik Independen Ungkap Penyebab Kematian Veronika

Langgur, MALRA-NEWS-ID -- Pernyataan Kapolres Maluku Tenggara, AKBP Rian Suhendi, yang menyebut kematian Veronika Rehanyanat akibat infeksi sepsis dan bukan karena kekerasan, menuai kritik tajam. Ketua Presidium PMKRI Cabang Langgur, Apolonia L Heatubun menilai penjelasan resmi kepolisian tidak sepenuhnya selaras dengan fakta di lapangan.

‎Keterangan itu disampaikan Apolonia kepada media ini, Kamis (26/2/2026). Ia secara terbuka mempertanyakan konstruksi kronologi yang dipaparkan dalam rilis resmi Polres Maluku Tenggara.

‎Dalam pernyataannya sebelumnya, Kapolres menyebut korban telah mengalami demam selama dua hari, sejak 17 Februari 2026 hingga dini hari 19 Februari 2026. Berdasarkan visum et repertum, polisi menyatakan hanya ditemukan dua tanda pada tubuh korban, yakni lebam di lengan dan bibir bengkak.

‎Pihak kepolisian menduga lebam pada lengan terjadi saat proses evakuasi menggunakan speed boat menuju rumah sakit. Sementara bibir bengkak disebut sebagai dampak tindakan medis saat korban mengalami kejang. Polisi menegaskan penyebab kematian adalah infeksi sepsis, bukan kekerasan.

‎Namun Apolonia menyatakan terdapat sejumlah fakta yang bertolak belakang dengan narasi tersebut.

‎“Pernyataan Kapolres tidak sesuai fakta. Pada Selasa, 17 Februari 2026, korban masih melakukan live streaming di Facebook saat perjalanan dari Debut menuju Perusahaan Mutiara Lik di Kecamatan Kei Kecil Barat. Dalam video itu almarhumah terlihat sehat,” tegas Apolonia

‎Menurutnya, jika korban disebut telah sakit sejak 17 Februari, publik berhak mempertanyakan bagaimana pada hari yang sama korban masih tampak aktif dan tidak menunjukkan gejala sakit serius.

‎Ia juga mengungkapkan keterangan keluarga korban yang menyebut lebam pada tubuh almarhumah sudah terlihat saat masih berada di perusahaan, bukan muncul saat proses evakuasi seperti yang disampaikan kepolisian.

‎Informasi yang dihimpun Ketua Presidium PMKRI cbg Langgur juga menyebut seorang saudara korban yang bekerja di Perusahaan Mutiara Lik masih melihat Veronika dalam kondisi sehat pada Selasa sore. 

‎Saksi tersebut mengaku melihat korban mengambil air dan beraktivitas normal. Bahkan setelah kembali dari memancing, ia masih melihat almarhumah menggunakan telepon genggam sambil berbaring dalam kondisi yang dinilai baik-baik saja.

‎Di sisi lain, Polres Maluku Tenggara menegaskan tidak ditemukan unsur kekerasan dalam penanganan perkara ini. Namun Apolonia menilai proses penyelidikan belum menjawab seluruh pertanyaan publik.

‎“Ini ada kejanggalan dalam proses penyidikan. Narasi yang dibangun tidak sepenuhnya sejalan dengan fakta yang kami peroleh di lapangan,” ujarnya.

‎Apolonia juga menyoroti klaim bahwa hanya ditemukan dua tanda lebam pada tubuh korban. Ia menyebut dokumentasi foto yang telah dikantongi pihaknya menunjukkan lebih dari dua lebam.

‎“Apa yang disampaikan Polres bahwa hanya ada dua tanda lebam tidak sesuai realita. Berdasarkan foto yang kami miliki, lebam pada tubuh korban lebih dari dua,” tegasnya.

‎Atas dasar itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Langgur mendesak dilakukannya otopsi oleh dokter forensik independen guna memastikan penyebab kematian serta menguji asal-usul lebam pada tubuh korban secara ilmiah.

‎Apolonia menekankan bahwa keterbukaan dan pembuktian medis yang transparan menjadi kunci untuk meredam spekulasi dan memulihkan kepercayaan publik.

‎“Tanpa langkah terbuka dan investigasi mendalam, kepercayaan masyarakat terhadap penanganan kasus ini akan terus tergerus,” tandasnya.

  • Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Kepercayaan Publik Dipertaruhkan, PMKRI Desak Forensik Independen Ungkap Penyebab Kematian Veronika Rating: 5 Reviewed By: malra-news.id