![]() |
Kedatangan dua unsur tempur laut itu bukan sekadar agenda rutin. Ini adalah penegasan nyata kehadiran negara di laut timur Indonesia — wilayah strategis yang menjadi garda terdepan kedaulatan maritim.
KRI Balongan-908 lebih dulu merapat pada pukul 08.55 WIT, disusul KRI Dorang-874 pukul 09.30 WIT.
Penyambutan berlangsung khidmat, dihadiri unsur Forkopimda Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, termasuk Wakil Wali Kota Tual Hi. Amir Rumra, Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam, jajaran DPRD, TNI-Polri, serta instansi vertikal lainnya.
Satgas Operasi Trisila 26 dipimpin Wadan Satgas Kolonel Laut (P) Son Haji Hariyoko, M.Tr. Hanla., M.M., mewakili Dansatgas Laksma TNI Andri Kristianto, M.Han., didampingi Pasops Satgas Mayor Laut (P) Army Provytama, S.E.
Dalam keterangannya, Kolonel Son Haji Hariyoko menegaskan bahwa Operasi Trisila merupakan operasi strategis yang dilaksanakan secara berkala oleh Komando Armada Republik Indonesia, yang terbagi dalam tiga wilayah operasi: Koarmada I, Koarmada II, dan Koarmada III.
“Operasi ini dirancang untuk menjamin keamanan laut, melindungi kepentingan nasional, serta membina potensi maritim di daerah-daerah lintasan operasi.
Kami juga melaksanakan latihan tempur laut, peperangan anti udara, hingga pelatihan pendaratan pasukan marinir. Kehadiran kami bukan hanya untuk operasi keamanan, tetapi juga membangun sinergi dengan masyarakat,” tegasnya.
Tahap pertama operasi wilayah Koarmada III dimulai dari Sorong, kemudian bergerak ke Pulau Bras, Temate, Tidore, Ambon, Saumlaki, Tual, dilanjutkan ke Dobo (Aru), Timika, Fakfak, Kaimana, sebelum kembali ke Sorong.
" Jalur ini menunjukkan betapa luas dan strategisnya cakupan pengamanan laut timur.
Komandan Lanal Tual, Kolonel Laut (P) Andik Putro Wibowo, menambahkan bahwa KRI Balongan-908 berfungsi sebagai kapal patroli cepat untuk pengawasan wilayah laut, pengamanan objek vital maritim, serta patroli dan pengawalan strategis.
Sementara KRI Dorang-874 memperkuat sistem keamanan laut melalui patroli pendukung, pencegahan pelanggaran hukum, dan pengawasan jalur pelayaran strategis.
“Kehadiran kedua KRI ini menegaskan kesiapsiagaan TNI AL dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia, khususnya wilayah timur,” ujarnya.
Namun, Operasi Trisila 26 di Tual tidak semata berbicara soal kekuatan tempur. Pendekatan sosial menjadi bagian integral misi. Sabtu sore, prajurit TNI AL membagikan takjil kepada masyarakat di depan Mess Lanal Tual.
Minggu pagi dilakukan pembersihan Taman Makam Pahlawan Maluku Tenggara, dilanjutkan silaturahmi di Mako Lanal.
Senin, siswa SMK Negeri 1 Tual mendapat kesempatan mengikuti Open Ship untuk mengenal lebih dekat kehidupan dan teknologi di atas kapal perang.
Edukasi tentang bahaya narkoba dan kesehatan remaja juga dijadwalkan berlangsung Selasa pagi, memperkuat pembinaan karakter generasi muda pesisir.
Momentum ini menjadi ruang pembelajaran langsung bagi masyarakat, khususnya pemuda, tentang arti penting keamanan laut.
Di tengah tantangan pelanggaran wilayah, kejahatan perairan, hingga dinamika geopolitik kawasan, kehadiran unsur TNI AL di Tual adalah pesan tegas: laut timur bukan ruang kosong pengawasan.
Satgas Ops Trisila 26 bukan sekadar operasi rutin. Ia adalah representasi kesiapan negara menjaga kedaulatan, sekaligus membangun kedekatan dengan rakyat.
Sinergi antara TNI AL, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban laut Maluku Tenggara.
Di bulan suci Ramadan ini, penguatan ibadah berjalan seiring dengan penguatan kamtibmas. Laut aman, masyarakat tenang, pembangunan pun bergerak maju.


0 comments:
Post a Comment