![]() |
Ketua Gerakan Edukasi Peduli Perempuan Kei (GEPKEI), menjelaskan, Momentum ini bukan hanya tentang mengenang hari kelahirannya, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama untuk memanjatkan doa, merawat ingatan, serta meneguhkan tekad dalam memperjuangkan keadilan yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Setiap lilin yang dinyalakan menjadi simbol bahwa kenangan tentang Veronika tetap hidup, bahwa suaranya tidak akan tenggelam oleh waktu, dan bahwa solidaritas akan terus menyala di tengah kesedihan.
"Melalui kegiatan ini, kami berdiri bersama keluarga—menguatkan, mengingat, dan memastikan bahwa namanya tetap abadi dalam hati dan perjuangan," ujar Hani Nuhuyanat.
![]() |
Seribu lilin ini bukan sekadar cahaya, melainkan simbol cinta, solidaritas, dan komitmen kami untuk terus menuntut keadilan.
Kami percaya bahwa setiap nyala adalah doa, setiap cahaya adalah suara, dan setiap tetes air mata adalah pengingat bahwa nyawa manusia tidak pernah bisa dinilai dengan apa pun.
Melalui momentum ini "Hani menegaskan bahwa perjuangan belum selesai. Keadilan harus ditegakkan secara jujur, transparan, dan tanpa pandang bulu.
"Kami berdiri bersama keluarga, dan bersama seluruh rakyat kecil yang mendambakan perlindungan serta kepastian hukum," tegasnya.
Veronika mungkin telah tiada, tetapi semangatnya hidup dalam setiap lilin yang menyala malam ini.
Hari ini seharusnya ada tawa, kue kecil, dan doa yang dipeluk bahagia.
Namun yang kami tiup hanya lilin dalam angin, menyebut namamu pelan—Veronika.
Ulang tahunmu kini tinggal tanggal, tinggal rindu yang tak pernah selesai.
Di antara air mata dan harap,
kami percaya: Cahaya hidupmu tak pernah benar-benar padam.
Demi anakmu kau berjuang sekalipun dalam hening. Demi kamu kami tidak akan diam



0 comments:
Post a Comment