![]() |
Langkah agresif itu ditunjukkan dalam forum implementasi dan tindak lanjut Pusat Promosi Investasi Daerah (PPID) yang digelar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia di Batam. Di hadapan investor global, Hanubun memaparkan secara lugas potensi unggulan yang selama ini dinilai masih “tertidur”.
Tidak lagi bermain di tataran konsep, Maluku Tenggara menawarkan sektor riil yang siap digarap: pariwisata bahari kelas dunia dengan bentang alam eksotis, industri pengolahan rumput laut yang menjanjikan pasar ekspor, hingga hilirisasi kopra berbasis kelapa yang berpotensi menghasilkan nilai tambah berlipat.
“Maluku Tenggara tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga memiliki posisi strategis sebagai gerbang ekonomi kawasan timur Indonesia. Kami siap menjadi mitra investasi yang serius,” tegas Hanubun, menegaskan keseriusan pemerintah daerah membuka ruang kolaborasi.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Selama bertahun-tahun, potensi besar Maluku Tenggara terjebak dalam pola ekonomi tradisional—bergantung pada penjualan bahan mentah tanpa pengolahan. Akibatnya, nilai ekonomi yang dihasilkan tidak maksimal, sementara peluang industri terus terlewatkan.
Kini, arah itu mulai diubah. Pemerintah daerah menargetkan masuknya investasi sebagai pemicu lompatan ekonomi: menciptakan lapangan kerja, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata.
Di sektor pariwisata, gugusan pulau dan garis pantai Maluku Tenggara diproyeksikan menjadi destinasi unggulan yang mampu bersaing di pasar internasional. Sementara itu, komoditas rumput laut dan kopra didorong keluar dari jebakan ekspor bahan mentah menuju industri hilir bernilai tinggi.
Forum PPID yang diinisiasi APKASI menjadi momentum penting—bukan sekadar ajang promosi, tetapi arena kompetisi antar daerah dalam menarik perhatian investor global. Kehadiran investor asal Tiongkok membuka peluang besar, mengingat kekuatan modal dan teknologi yang dimiliki negara tersebut.
Meski demikian, Hanubun mengingatkan bahwa investasi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Ia menegaskan, setiap investasi yang masuk harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat lokal.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Investasi harus memberi manfaat langsung bagi rakyat Maluku Tenggara,” ujarnya tegas.
Langkah ini menandai babak baru pembangunan Maluku Tenggara—bergeser dari ekonomi berbasis eksploitasi bahan mentah menuju ekonomi modern berbasis nilai tambah dan investasi berkelanjutan.
Jika strategi ini dikawal konsisten, Maluku Tenggara berpotensi keluar dari bayang-bayang ketertinggalan dan menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.

Social Header