![]() |
Langkah ini merupakan bagian dari groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap kedua yang digelar serentak di delapan wilayah Indonesia dan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Di Maluku, kegiatan dipusatkan di wilayah Awaiya dan dihadiri Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Nefra Firdaus, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, serta jajaran Forkopimda, OPD, hingga pihak PT Perkebunan Nusantara I Regional VIII Awaiya.
Dari Komoditas Mentah ke Industri Bernilai Tinggi
Proyek ini menjadi penanda perubahan mendasar: Maluku tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Kelapa dan pala—dua komoditas unggulan daerah—mulai diarahkan ke industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat struktur ekonomi lokal.
Gubernur Maluku menegaskan, hilirisasi bukan sekadar seremoni, melainkan strategi besar dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Dengan produksi kelapa yang telah melampaui 100 ribu ton per tahun dan pala mencapai ribuan ton, Maluku dinilai memiliki fondasi kuat untuk masuk ke tahap industrialisasi. Namun selama ini, sebagian besar hasil perkebunan tersebut masih dijual dalam bentuk mentah.
“Hilirisasi akan membuka peluang luas, mulai dari industri pengolahan, kemitraan petani, hingga penciptaan lapangan kerja,” tegas Lewerissa.
Mengakhiri “Paradoks Kekayaan” Maluku
Gubernur juga menyoroti kondisi yang ia sebut sebagai “paradoks kekayaan”—di mana daerah kaya sumber daya justru belum menikmati hasil maksimal.
“Kita kirim bahan mentah keluar, mereka olah, lalu kita beli kembali dengan harga mahal. Ini harus diakhiri,” ujarnya tegas.
Melalui hilirisasi, rantai ekonomi tersebut diharapkan terputus. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan pendapatan daerah, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka pengangguran.
Stabilitas dan Keterlibatan Masyarakat Jadi Kunci
Meski optimistis, pemerintah daerah mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas keamanan dan sosial sebagai fondasi utama investasi.
Selain itu, masyarakat lokal diminta tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut terlibat aktif dalam ekosistem industri yang dibangun.
Di sisi lain, perusahaan juga diingatkan untuk menjalankan tanggung jawab sosial (CSR) secara nyata dan berdampak langsung bagi warga sekitar.
“Keuntungan perusahaan harus sejalan dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Gubernur.
Awaiya Menuju Simpul Baru Ekonomi Nasional
Groundbreaking ini bukan sekadar awal pembangunan fasilitas industri, melainkan simbol perubahan arah pembangunan Maluku. Dari wilayah penghasil bahan mentah, Maluku kini mulai menapaki jalan sebagai pusat pengolahan komoditas strategis.
Awaiya pun diproyeksikan menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi nasional—tempat di mana kelapa dan pala tidak hanya dipanen, tetapi diolah menjadi sumber kesejahteraan dan masa depan bagi masyarakat.
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini tidak hanya akan mengangkat Maluku di peta industri nasional, tetapi juga menjadi model hilirisasi berbasis daerah kepulauan di Indonesia.

Social Header