![]() |
Tak sekadar penyambutan, momentum ini menjelma menjadi peristiwa budaya dan spiritual yang sarat makna. "Di bawah komando Penjabat Kepala Ohoi Watuar, Verderika Rahaningmas, masyarakat dari berbagai penjuru tumpah ruah memadati jalan utama sejak pagi hari.
Warna-warni kain adat yang dikenakan warga bukan hanya memperindah suasana, tetapi menjadi simbol hidup dari persatuan, penghormatan, dan kecintaan terhadap warisan leluhur.
Dentuman tifa menggetarkan ruang, mengiringi tarian adat Kei yang ditampilkan dengan penuh khidmat. Setiap gerak dan irama mengandung pesan leluhur—tentang penerimaan, penghormatan, dan ikatan yang tak terpisahkan antara adat dan iman.
Prosesi ritual adat pun digelar, menjadi puncak penyambutan yang menegaskan bahwa tamu yang datang bukan sekadar pemimpin gereja, tetapi sosok yang dimuliakan dalam tatanan budaya Kei.
“Penyambutan ini bukan hanya tradisi, tetapi bentuk penghormatan adat Kei kepada Yang Mulia Uskup Amboina. Ini adalah simbol persatuan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur,” tegas Rahaningmas dengan penuh kebanggaan.
Kehadiran Mgr Inno Ngutra di tengah masyarakat Watuar bukan hanya mempererat hubungan antara gereja dan umat, tetapi juga memperkuat jembatan nilai antara iman dan adat.
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Kei kembali menunjukkan jati dirinya—bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang terus berdenyut dalam setiap langkah kebersamaan.
Di Watuar, hari itu, adat dan iman berpadu dalam satu napas. Sebuah pesan kuat dari timur Indonesia untuk bangsa: bahwa persatuan, penghormatan, dan nilai luhur masih hidup, dijaga, dan diwariskan dengan penuh cinta, "tutup Pj ohoi Watuar, Ferderika Rahaningmas.
(DEMAS-APRI)

Social Header