![]() |
Sebanyak 16 program layanan sosial dipastikan hadir, menjadikan Maluku Tenggara sebagai salah satu pusat intervensi sosial terbesar di kawasan timur Indonesia tahun ini.
Dari operasi katarak, penanganan ODGJ hingga pembebasan pasung, layanan bagi penyandang disabilitas, hingga bantuan pendidikan dan perlindungan korban perdagangan orang—semuanya dikemas dalam satu gerakan terpadu.
Rapat koordinasi perdana dipimpin Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Hendrikus Watratan, yang menegaskan bahwa kepercayaan dari pemerintah pusat bukan sekadar seremoni, melainkan ujian nyata bagi kapasitas daerah.
“Ini bukan kegiatan biasa. Ini momentum besar. Kita tidak boleh setengah siap—data harus valid, penerima harus tepat, dan layanan harus benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan strategis antara Pemkab Maluku Tenggara dan pihak Kemensos pada 9 April 2026 di Jakarta, yang juga membuka peluang kunjungan kerja Menteri Sosial ke daerah tersebut. Jika terealisasi, kunjungan ini akan menjadi sorotan nasional, sekaligus ujian kesiapan daerah dalam menangani agenda berskala VVIP.
Namun tantangan utama tidak kecil. Waktu persiapan yang sempit membuat seluruh OPD berada dalam tekanan tinggi. Validasi data penerima manfaat menjadi krusial untuk menghindari kesalahan penyaluran bantuan—masalah klasik yang kerap menghantui program sosial di berbagai daerah.
Di sektor kesehatan, intervensi difokuskan pada layanan langsung seperti operasi katarak, pemeriksaan lansia, fisioterapi, donor darah, hingga penanganan penyakit kronis seperti HIV/AIDS dan kusta.
Sementara di sektor sosial, pemerintah menghadirkan program strategis seperti sidang isbat, penerbitan akta nikah, sunatan massal, hingga pelunasan tunggakan biaya sekolah bagi siswa kurang mampu.
Yang paling menonjol, masuknya layanan penanganan ODGJ menjadi titik balik yang telah lama dinantikan. Program ini tidak hanya menyasar aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang selama ini terabaikan.
“Ini perjuangan panjang. Dan akhirnya hadir. Ini tentang memulihkan martabat manusia,” kata Watratan.
Untuk memastikan eksekusi berjalan tanpa celah, Pemkab telah menerbitkan Keputusan Bupati Nomor 335.a Tahun 2026 yang menetapkan struktur tim pelaksana lintas sektor. Rumah sakit daerah disiapkan sebagai pusat layanan, Dinas Dukcapil mengurus administrasi kependudukan, Dinas Pendidikan memverifikasi data siswa, sementara Dishub, Kominfo, hingga aparat keamanan dikerahkan untuk menjamin kelancaran kegiatan.
Di level akar rumput, camat dan pemerintah ohoi diminta tidak lengah. Kehadiran masyarakat penerima manfaat menjadi faktor kunci keberhasilan.
“Jangan sampai program sudah siap, tapi penerima tidak hadir. Koordinasi lapangan harus solid,” tegasnya lagi.
Dengan skala program yang luas dan dampak yang diharapkan signifikan, bakti sosial terintegrasi ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ujian nyata efektivitas pelayanan publik di daerah. Jika berhasil, Maluku Tenggara bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi bisa menjadi model pelaksanaan layanan sosial terpadu di tingkat nasional.
Pemerintah daerah pun menaruh harapan besar agar program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berlanjut sebagai kebijakan berkelanjutan dalam memperkuat perlindungan sosial masyarakat.
Di tengah berbagai keterbatasan, satu pesan yang mengemuka: negara harus benar-benar hadir—dan kali ini, Maluku Tenggara menjadi panggung pembuktiannya.

Social Header