Breaking News

Stand Up Comedy Jadi Senjata Baru Selamatkan Bahasa Kei di Maluku Tenggara ‎

 

Langgur, MALRA-NEWS.ID Upaya pelestarian bahasa daerah kini dikemas dengan cara yang tak biasa. Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara mendorong kebangkitan Bahasa Kei melalui panggung hiburan, dengan menggelar lomba stand up comedy di Taman Landmark Langgur, Jumat (24/04/2026).

‎Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Maluku Tenggara, Bin Raudah Arif Hanubun, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan strategi serius menghadapi ancaman punahnya bahasa daerah di kalangan generasi muda, khususnya di wilayah perkotaan.

‎“Bahasa daerah adalah identitas. Jika tidak digunakan, maka perlahan akan hilang. Kami ingin anak-anak bukan hanya memahami Bahasa Kei, tetapi juga percaya diri menggunakannya di ruang publik,” tegas Raudah.

‎Fenomena menurunnya penggunaan Bahasa Kei di kalangan pelajar menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Di tengah gempuran budaya populer dan dominasi bahasa nasional maupun asing, Bahasa Kei mulai terpinggirkan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda.

‎Melihat kondisi tersebut, Dinas Pendidikan memilih pendekatan yang lebih adaptif dan relevan. Stand up comedy dinilai sebagai medium efektif untuk menjembatani pembelajaran bahasa dengan dunia anak muda yang dinamis, ekspresif, dan kreatif.

‎“Metode konvensional saja tidak cukup. Anak-anak butuh ruang ekspresi. Lewat stand up comedy, mereka bisa bercerita, mengkritik, sekaligus melestarikan bahasa dengan cara yang menyenangkan,” lanjutnya.

‎Sebanyak 17 siswa tingkat SMP dari berbagai kecamatan tampil membawakan materi komedi berbasis kearifan lokal—mulai dari cerita adat, kebiasaan masyarakat, hingga dinamika kehidupan sehari-hari orang Kei. Seluruh materi disampaikan menggunakan Bahasa Kei, menjadikan panggung ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga ruang revitalisasi bahasa.

‎Untuk menjaga kualitas, panitia menghadirkan tiga juri yang menilai dari aspek bahasa, penyampaian, kreativitas, hingga kekuatan pesan budaya yang disampaikan peserta.

‎Meski Bahasa Kei telah masuk dalam kurikulum muatan lokal, Raudah mengakui implementasinya masih menghadapi tantangan. Penggunaan bahasa di ruang kelas dinilai belum cukup tanpa praktik nyata di kehidupan sosial.

‎“Bahasa tidak bisa hidup hanya di buku pelajaran. Ia harus digunakan, dirasakan, dan dibanggakan. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting sebagai penguat,” ujarnya.

‎Ia pun mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dan berharap kegiatan serupa dapat diperluas, baik dari sisi skala maupun jumlah peserta.

‎“Ini langkah awal. Ke depan harus lebih besar, lebih meriah, dan menjangkau seluruh pelajar di Maluku Tenggara,” tutupnya.

‎Langkah inovatif ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tak harus kaku dan formal. Di Maluku Tenggara, bahasa daerah kini menemukan panggung baru—di antara tawa, kritik, dan kreativitas generasi muda.

© Copyright 2022 - malra-news.id