![]() |
Menurut Fikry, sejak dahulu masyarakat Kei hidup dalam semangat kebersamaan yang berakar pada hukum adat Larvul Ngabal dan filosofi Ain ni Ain, yang menempatkan martabat manusia, keadilan, serta persaudaraan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
“Dalam Ain ni Ain, sesama manusia bukanlah orang lain, melainkan bagian dari diri kita sendiri. Ketika satu orang terluka, seluruh komunitas ikut merasakan luka itu. Sebaliknya, keberhasilan seseorang menjadi kebanggaan bersama,” tulisnya.
Namun di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai luhur tersebut dinilai menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Berbagai konflik sosial yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di wilayah Kepulauan Kei, mulai dari perselisihan antarkampung, sengketa batas wilayah adat dan tanah ulayat, konflik sumber daya alam, hingga ketegangan yang dipicu informasi tidak terverifikasi di media sosial, menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat.
Fikry menilai era digital telah menghadirkan tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan teknologi kecerdasan buatan, persaingan ekonomi, hingga menguatnya sentimen kelompok tertentu berpotensi menggerus kohesi sosial apabila tidak disikapi secara bijak.
Dalam situasi tersebut, pemuda dinilai tidak boleh hanya menjadi penonton. Generasi muda harus tampil sebagai bagian dari solusi dengan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan, membuka ruang dialog, serta mengubah potensi konflik menjadi kolaborasi yang produktif.
“Menjadi pemuda Kei hari ini bukan sekadar soal usia dan semangat. Ada tanggung jawab moral dan kultural untuk menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, dan memastikan setiap perbedaan tidak berkembang menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fikry menekankan bahwa kemajuan daerah tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik seperti jalan, gedung, maupun investasi. Kemajuan sejati, menurutnya, terletak pada kemampuan masyarakat menjaga kepercayaan sosial, solidaritas, dan rasa saling memiliki terhadap daerah serta sesama warga.
Dalam konteks pembangunan kepemudaan, ia menaruh harapan besar kepada Komite Nasional Pemuda Indonesia agar mampu bertransformasi menjadi rumah bersama bagi seluruh pemuda Kei tanpa memandang latar belakang kampung, agama, organisasi, status sosial, maupun afiliasi politik.
KNPI, kata dia, harus menjadi ruang perjumpaan gagasan, wadah rekonsiliasi, sekaligus laboratorium sosial yang melahirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Manifesto tersebut juga menyoroti relevansi kepemimpinan Fikri Tamher dalam mendorong lahirnya gerakan kepemudaan yang lebih inklusif, responsif, dan bertanggung jawab. Gerakan yang tidak hanya aktif pada momentum politik, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan pendampingan, edukasi, mediasi, serta solusi atas berbagai persoalan sosial.
Fikry menegaskan bahwa kepemimpinan pemuda sejati tidak diukur dari kerasnya suara atau besarnya pengaruh yang ditunjukkan, melainkan dari kemampuan mendengar aspirasi masyarakat, merangkul perbedaan, menyelesaikan persoalan secara bijaksana, serta menggerakkan energi kolektif untuk kepentingan bersama.
Menutup manifestonya, ia mengajak seluruh generasi muda Maluku Tenggara untuk mengambil peran sebagai agen perdamaian, pelopor pembangunan, dan penjaga nilai-nilai luhur Larvul Ngabal.
“Sudah saatnya pemuda berdiri di garis depan untuk meredam konflik, memperkuat persaudaraan, dan membangun ruang-ruang kolaborasi yang produktif. Ketika pemuda bergerak dengan kesadaran, tanggung jawab, dan semangat Ain ni Ain, maka Maluku Tenggara tidak hanya akan maju dalam pembangunan, tetapi juga kuat dalam budaya, kokoh dalam persaudaraan, damai dalam kehidupan sosial, dan bermartabat dalam perjalanan masa depannya,” tulisnya.
Manifesto ini menjadi seruan moral bagi generasi muda Kei untuk kembali meneguhkan semangat persaudaraan sebagai fondasi utama dalam membangun Maluku Tenggara yang damai, inklusif, maju, dan bermartabat.
“Pemuda yang menjaga persaudaraan adalah pemuda yang menjaga masa depan.”

Social Header