![]() |
Penegasan itu disampaikan Thaher saat menggelar Coffee Morning bersama atlet dan pelatih KONI Maluku Tenggara di Taman Landmark Larvul Ngabal, Kota Langgur, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.30 WIT tersebut diawali dengan senam bersama yang dipimpin langsung Bupati. Hadir dalam kegiatan itu Ketua Komisi II DPRD Maluku Tenggara Benediktus Fadly Reyaan, Ketua KONI Maluku Tenggara Marsel Layanan, Kepala Bidang Olahraga Dispora Maluku Tenggara Gino Farneubun, Kepala Bappelitbangda Clemens Welafubun, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Bin Raudha Arif Hanoeboen, para pengurus cabang olahraga, pelatih, serta puluhan atlet.
Di hadapan para atlet dan pelatih, Thaher secara terbuka meminta KONI tidak lagi menjalankan pembinaan olahraga tanpa arah yang jelas.
Menurutnya, setiap cabang olahraga harus memiliki program latihan, target prestasi, kebutuhan sarana dan prasarana, serta rincian pembiayaan yang disusun sejak awal.
“Target dulu, baru program. Setelah itu baru biaya. Kalau programnya tidak ada, kita juga tidak tahu anggarannya untuk apa,” tegas Thaher.
Ia meminta seluruh pelatih segera menyusun program latihan secara terukur, termasuk jadwal, tempat latihan, kebutuhan peralatan, hingga target medali pada Pekan Olahraga Maluku (Popmal) 2027.
Bupati bahkan memberikan batas waktu agar program tersebut segera diserahkan kepada pengurus untuk kemudian menjadi dasar pemerintah dalam mengambil keputusan terkait dukungan anggaran.
“Dalam satu minggu ini susun program. Atletnya siapa, tempat latihannya di mana, pembiayaannya berapa, dan targetnya apa. Jangan yang mewah-mewah. Kita membina olahraga amatir,” ujarnya.
MALRA HARUS NAIK PERINGKAT
Thaher juga memasang target lebih tinggi bagi kontingen Maluku Tenggara pada Popmal mendatang.
Ia mengingatkan agar KONI tidak sekadar berorientasi pada keikutsertaan, tetapi harus memiliki keberanian memasang target peningkatan peringkat.
“Kalau target KONI, saya harus memperbaiki peringkat. Dari peringkat keenam keempat, harus ke peringkat tiga atau dua,” katanya.
Ia mengakui persaingan untuk menggeser Kota Ambon bukan perkara mudah karena pembinaan olahraga di ibu kota provinsi tersebut relatif lebih terpusat. Namun, menurutnya, Maluku Tenggara tetap memiliki peluang bersaing dengan daerah lain seperti Maluku Tengah dan Kepulauan Tanimbar.
“Untuk menjebol Ambon mungkin susah, karena semua terpusat di Ambon. Itu harus kita akui. Tetapi pesaingan kita paling Maluku Tengah, KKT dan daerah-daerah lainnya,” jelasnya.
ATLET JANGAN DIBEBANI URUSAN LAIN
Pesan paling tegas Thaher diarahkan kepada para pengurus dan pelatih agar tidak membebani atlet dengan persoalan di luar tugas utama mereka.
Menurutnya, seorang atlet harus fokus pada latihan dan target prestasi.
“Tanamkan dulu Maluku Tenggara di dada masing-masing. Atlet tidak boleh dikasih beban. Bebannya hanya latihan untuk juara. Semua hal yang lain tidak boleh dipikir oleh mereka,” tegasnya.
Ia meminta pengurus KONI dan pengurus cabang olahraga memastikan seluruh kebutuhan atlet, mulai dari pakaian, sepatu, peralatan latihan hingga tempat latihan, direncanakan dengan baik.
Bupati juga menekankan bahwa fasilitas olahraga tidak boleh dibedakan secara tidak adil antara satu atlet dengan atlet lainnya.
“Kalau saya pakai yang asli, kamu juga harus pakai yang asli. Kalau fasilitasnya tidak sama, hasilnya juga tidak akan bagus,” ujarnya.
SEJUMLAH CABOR SUDAH PASANG TARGET MEDALI
Dalam pertemuan tersebut, Thaher juga meminta satu per satu cabang olahraga memaparkan jumlah atlet, target medali dan kebutuhan pembinaan.
Untuk cabang tinju, misalnya, disiapkan enam atlet dengan target medali emas. Sementara kickboxing menyiapkan enam atlet dengan target awal tiga emas, sedangkan muay thai juga menargetkan tiga medali emas.
Cabang wushu menyatakan target tiga emas, sementara sejumlah cabang lain seperti renang, catur, silat, kempo, tenis meja, karate dan bola voli turut diminta memperjelas target serta kebutuhan pembinaannya.
Khusus atlet renang, disebutkan terdapat 10 atlet yang mendapat kuota KONI, sementara pembinaan juga berjalan terhadap atlet lapis bawah.
Thaher menegaskan, jumlah atlet harus berbanding lurus dengan target yang hendak dicapai.
“Kalau misalkan kau usulkan sepuluh atlet, target perolehan medalinya harus jelas. Kalau bilang targetnya tiga, kenapa sepuluh atlet? Paham itu?” katanya.
“KALAU COACH LALAI, KAMU MENELANTARKAN ATLET”
Thaher bahkan mengingatkan keras para pelatih dan pengurus cabang olahraga agar tidak terlambat menyiapkan atlet.
Menurutnya, waktu menuju Popmal 2027 tidak boleh disia-siakan.
“Kalau coach dan pengurus pencab lalai, berarti kamu menelantarkan atlet,” tegasnya.
Ia meminta proses seleksi atlet, penyusunan program latihan, penyediaan fasilitas dan kebutuhan perlengkapan dilakukan secara bertahap dan tidak menunggu mendekati hari pertandingan.
Begitu atlet ditetapkan, lanjutnya, kebutuhan seperti ukuran pakaian, sepatu, training dan perlengkapan pertandingan harus segera dipersiapkan.
“Latihan itu harus punya kebanggaan sendiri. Atlet harus merasa bahwa dia membawa nama Maluku Tenggara,” katanya.
PEMDA SIAP DUKUNG, ASAL PROGRAM JELAS
Thaher memastikan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara tidak menutup mata terhadap kebutuhan pembinaan atlet.
Namun, dukungan anggaran harus didasarkan pada program yang jelas dan terukur.
Ia mengatakan pembiayaan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, KONI, pengurus cabang olahraga maupun sponsor.
“Kalau Pemda sebagian, KONI sebagian, pengurusnya sebagian, tidak ada masalah. Nanti kita atur. Yang penting sekarang programnya harus jelas,” ujarnya.
Menurut Thaher, pemerintah membutuhkan gambaran konkret mengenai kebutuhan setiap cabang olahraga sebelum mengalokasikan dukungan.
Ia tidak ingin anggaran olahraga dikeluarkan tanpa perencanaan yang jelas.
“Kalau kita semua buta, program tidak ada, uang di kas keluar saja kan tidak mungkin,” tegasnya.
OLAHRAGA HARUS DIBANGUN DENGAN KEGEMBIRAAN
Di hadapan para atlet, Thaher juga mengingatkan bahwa olahraga bukan sekadar persoalan fisik, tetapi membutuhkan perpaduan antara kemampuan berpikir, teknik, mental dan gerakan tubuh.
“Olahraga itu antara teori dan praktik harus menyatu. Akal dan gerak harus menyatu jadi satu, baru bisa,” katanya.
Ia juga meminta para pelatih membangun suasana latihan yang menyenangkan dan tidak membuat atlet merasa terbebani.
“Olahraga itu harus gembira, olahraga itu harus niat, olahraga itu harus senang,” ujarnya.
Thaher yang mengaku memiliki latar belakang pendidikan olahraga, khususnya psikologi kepelatihan, menilai faktor mental atlet sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Karena itu, pembinaan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari fisik, teknik, mental, disiplin hingga dukungan fasilitas.
Coffee Morning tersebut akhirnya menjadi ruang konsolidasi terbuka antara pemerintah daerah, KONI, pelatih dan atlet untuk membangun fondasi pembinaan menuju Popmal 2027.
Pesan Bupati cukup jelas: Maluku Tenggara tidak boleh datang ke arena hanya untuk berpartisipasi. Kontingen harus datang dengan program, target dan keberanian untuk merebut prestasi.

Social Header