![]() |
Kisah Pius bukan sekadar cerita tentang olahraga. Ini adalah kisah tentang mimpi anak daerah, tentang keberanian meninggalkan kampung halaman, dan tentang tekad yang tak pernah padam meski berkali-kali berhadapan dengan kegagalan.
Lahir di Namlea, 28 Januari 1974, Pius merupakan putra pasangan Servasius Janwarin dan Petronela Welafubun. Kecintaannya pada bola voli tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Namun, impian pertamanya kandas ketika ia gagal masuk tim voli SMP Negeri Namlea. Alih-alih menyerah, ia memilih berlatih lebih keras, meyakini bahwa kesempatan akan datang bagi mereka yang tidak berhenti berjuang.
Kesempatan itu hadir saat Pius bersekolah di SMA Pertiwi Namlea. Di bawah bimbingan guru olahraga yang akrab disapa Pak Martinus Rahanra, ia berlatih tanpa mengenal waktu, bahkan memanfaatkan jam istirahat sekolah untuk mengasah kemampuan.
Hasilnya, sejak kelas satu SMA ia dipercaya membela sekolah dalam kejuaraan tingkat kecamatan, hingga akhirnya membawa tim Kecamatan Namlea meraih juara pertama tingkat kabupaten.
![]() |
Ia bergabung dengan Klub Yarden Ambon di bawah pembinaan Pak Man, berlatih tanpa biaya dan mengikuti berbagai turnamen antarklub. Dari lapangan-lapangan sederhana di Ambon, namanya mulai dikenal sebagai salah satu talenta terbaik Maluku.
Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika dipercaya memperkuat Tim Voli Provinsi Maluku dalam persiapan Pra-PON 1992 di Manado. Penampilannya di ajang itu menarik perhatian pelatih Pelita Jaya Jakarta, salah satu klub besar Indonesia.
Pada Oktober 1993, Pius berangkat ke Jakarta, membuka lembaran baru sebagai atlet profesional di tengah persaingan nasional yang jauh lebih ketat.
Perjalanan di ibu kota tidak selalu mulus. Pelita Jaya kemudian bubar, tetapi Pius menolak berhenti. Ia melanjutkan karier bersama Popsivo, lalu bergabung dengan Klub Mabes TNI. Di sanalah salah satu puncak prestasinya lahir. Bersama Mabes TNI, Pius sukses membawa tim menjadi Juara Livoli, kompetisi voli paling bergengsi sebelum Proliga.
Gelar Livoli membuka pintu menuju panggung yang selama ini diimpikan. Pius resmi tampil di Proliga bersama Jakarta Patriot, menjadikan dirinya salah satu putra Maluku yang mampu bersaing di level tertinggi bola voli Indonesia. Perjalanannya bahkan berlanjut hingga mengikuti seleksi Pelatnas, membuktikan kualitasnya di mata nasional.
Di tengah karier olahraga yang terus menanjak, Pius mengambil jalan pengabdian lain. Pada tahun 1995, ia lolos menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia. Sejak saat itu, ia menjalani dua profesi sekaligus: polisi dan atlet. Disiplin yang dibangun di lapangan voli menjadi bekal dalam menjalankan tugas sebagai aparat negara.Kini, Pius bertugas di Polresta Tangerang, Banten, sebagai Kanit Lantas. Di balik seragam kepolisian, ia tetap dikenal sebagai sosok yang pernah mengharumkan nama Maluku di dunia olahraga nasional. Bersama sang istri, Ratna Prihatin, dan putrinya Katarina Zein Angelica Janwarin, ia membuktikan bahwa keluarga, pengabdian, dan mimpi dapat berjalan beriringan.
Bagi Pius Janwarin, kemenangan terbesar bukan hanya trofi Livoli atau tampil di Proliga. Kemenangan sejati adalah keberanian untuk terus bangkit setiap kali gagal. Dari anak kampung yang tak lolos tim sekolah, ia menjelma menjadi atlet nasional dan abdi negara.
"Beranilah bermimpi setinggi mungkin. Berusahalah sekuat mungkin. Berdoalah sebanyak mungkin. Karena tidak pernah ada yang tahu sejauh mana sebuah mimpi dapat membawa seseorang, selama ia tidak pernah berhenti memperjuangkannya," pesan Pius.
Kisah Pius Andreas Stephanus Janwarin menjadi inspirasi kuat bagi generasi muda Maluku dan Indonesia. Bahwa lahir dari daerah terpencil bukanlah penghalang untuk berdiri di panggung nasional. Yang menentukan bukan asal kampung halaman, melainkan keberanian untuk terus melangkah ketika dunia berkata "tidak".



Social Header