![]() |
Seorang saksi yang ikut dalam proses tersebut menuturkan, dirinya pertama kali dibangunkan oleh A saat sedang tidur.
“Saya sedang tidur. Saya tidak tahu jam berapa. Kemudian saya dibangunkan A. Dia bilang minta bantu Bang Trimo yang sedang sakit,” tuturnya.
Tak lama berselang, F juga menghubunginya dan meminta datang ke kawasan Kramat Pela dengan membawa mobil.
Sesampainya di lokasi, saksi melihat Sutrimo bersama A berada di dalam rumah. Saat itu, menurut penglihatannya, Sutrimo masih memberikan respons.
“Saya lihat Bang Trimo masih gerak-gerak. Masih hidup,” katanya.
A kemudian meminta Sutrimo mengangkat tangan. Saksi melihat tangan Sutrimo masih bergerak.
“Masih refleks, tangannya masih bergerak,” ujarnya.
Mereka kemudian berusaha mengeluarkan Sutrimo dari dalam rumah. Proses evakuasi tidak mudah karena tubuh Sutrimo disebut cukup berat.
“Dua orang saja tidak kuat. Sampai kita seret karena tidak kuat mengangkat,” katanya.
Dalam kondisi lemah, Sutrimo juga disebut masih batuk ketika dibawa keluar.
“Waktu kita gotong itu dia masih batuk,” tuturnya.
Setelah berhasil dibawa ke luar rumah, mereka berusaha mencari kendaraan untuk membawa Sutrimo mendapatkan pertolongan. Namun, mobil Brio yang tersedia disebut tidak cukup untuk digunakan.
Pencarian ambulans kemudian dilakukan dengan menghubungi sejumlah fasilitas kesehatan.
Saksi mengaku dirinya hanya mengikuti proses tersebut hingga tahap pencarian ambulans.
“Setelah itu saya tidak tahu,” ujarnya.
Kesaksian tersebut menggambarkan upaya pertolongan yang dilakukan sejumlah orang di lokasi, berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami secara langsung saat Sutrimo berada dalam kondisi sakit.

Social Header