![]() |
Sebanyak 43 peserta yang terdiri dari pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA ambil bagian dalam ujian ini. Hebatnya, seluruh peserta berhasil melewati serangkaian materi pengujian yang ketat dan dinyatakan lulus 100 persen untuk menyandang warna sabuk baru.
Di bawah naugan Federasi Olahraga Karate Indonesia (FORKI), GABDIKA tidak hanya memoles fisik para atlet muda, tetapi juga menempa karakter dan kepribadian luhur. Dalam UKT kali ini, para kohai diuji pada teknik dasar karate—mulai dari Dachi (kuda-kuda), Uke (tangkisan), Tzuki (pukulan), Geri (tendangan), peragaan Kata, hingga uji ketahanan fisik.
Ketegasan dan standar tinggi diterapkan langsung oleh tim tim penguji yang diisi oleh Sensei Hengki Renel, Senpai Buyung Balubun, Senpai Jofan Rada, Senpai Jacop Renmaur, serta Senpai Batmetan.
Pesan Menohok Sensei Hengki: Sabuk Tanpa Ijazah Cuma Simpatisan
Di hadapan para kohai, Sensei Hengki Renel menegaskan bahwa olahraga karate adalah sarana menyehatkan tubuh sekaligus menyempurnakan jiwa. Menurutnya, praktisi karate sejati harus teguh pendirian, berhati luhur, jujur, serta taat pimpinan.
"Latihan karate bukan sekadar menguasai gerakan fisik, melainkan sarana membentuk karakter generasi muda yang tangguh, berbudi pekerti luhur, dan berprestasi," tegas Sensei Hengki.
Tak hanya menyoal stamina dan teknik, ia memberikan peringatan keras terkait keabsahan lisensi dan kehormatan sabuk karate-ka.
"Jika seseorang mengaku anggota GABDIKA Shito Ryu Kai, ia harus bisa membuktikannya dengan ijazah resmi. Tanpa itu, dia hanyalah simpatisan dan segala tindakannya adalah tanggung jawab pribadi, bukan perguruan. Setiap pemegang sabuk hitam wajib punya ijazah sah. Karate adalah jiwa, dan sabuk adalah kehormatan," pangkasnya penuh penekanan.
Momen Haru: Orang Tua dan Unsur Muspika Pasangkan Sabuk
Kemeriahan dan kekhidmatan melingkupi puncak acara saat prosesi pemakaian sabuk baru dimulai. Hadir langsung memberi dukungan, perwakilan Kapolsek Elat, perwakilan Danramil Elat, serta para orang tua murid dari Dojo GABDIKA Langgur dan Dojo Elat.
Suasana haru dan bangga terasa ketika para orang tua berkesempatan memasangkan sabuk secara langsung ke pinggang anak-anak mereka. Kehadiran jajaran Muspika dan sanak keluarga menjadi bukti nyata bahwa pembinaan olahraga bela diri di Maluku Tenggara mendapat legitimasi dan dukungan penuh dari lintas sektor.
Seluruh rangkaian kegiatan UKT berjalan aman, tertib, dan lancar dari awal hingga usai, melahirkan generasi baru karateka Maluku Tenggara yang siap berprestasi dan menjaga kehormatan perguruan. (APRI/DEMAS)

Social Header